MASALAH -MASALAH YANG TIMBUL DALAM EKOSISTEM

1. Permasalahan Kerusakan Ekosistem Laut

Laut memberikan banyak manfaat, di sisi lain manusia juga memberlakukannya sebagai tempat pembuangan ‘sampah’. Kenyataan ini jelas menunjukkan paradox bagi warga negara Indonesia. Perlu di ketahui bahwa kerusakan ekosistem laut kita saat ini berada di zona merah. Hal ini tentu sangat membahayakan ekosistem laut kita. Seperti yang kita ketahui hutan mangrove sangat membantu dalam pemeliharaan laut. Hutan mangrove berguna untuk penghalang atau disebut juga dengan barier masuknya air laut ke daratan.  Hutan mangrove juga bermanfaat untuk penyerap gas karbondioksida terbaik yang bisa mencegah pemanasan global terjadi. Penyebab dari kerusakan yang terjadi pada hutan mangrove ini adalah karena lahan atau hutan mangrove ini beralih fungsi menjadi perumahan, pertambakan, dan juga dijadikan sebagai tempa rekreasi. Selain hal tersebut, kerusakan ekosistem laut ini juga disebabkan oleh pencemaran limbah oleh industry.

Terdapat 5 faktor lingkungan yang menjadi latar belakang dalam fenomena kerusakan ekosistem laut yaitu :

1. Berkurangnya fungsi ari hutan mangrove atau bakau yang ada di pesisir pantai. Hutan bakau atau mangrove sangat bermanfaat sekali dalam penanggulangan bahaya yang bisa saja merusak ekosistem laut.

2. Laju abrasi yang terlihat meningkat tinggi. Dengan meningkatnya laju abrasi ini daratan akan menyempit tersapu oleh pantai yang hampir menyentuh badan jalan.

3. Kerusakan terhadap terumbu karang di laut. Perusakan terumbu karang ini dilakukan dengan cara pengeboman dalam usaha untuk menangkap ikan sebanyak – banyaknya oleh nelayan yang tidak bertanggung jawab dan juga penggunaan racun potasium.Tidak hanya itu, tindakan yang merusak biota laut ini juga dilakukan dengan cara mengeksploitasi terumbu karang untuk digunakan sebagai pondasi bangunan dan juga mengeoploitasi hasil laut yang tidak teratur. Pengeksploitasian batu karang yang banyak digunakan untuk bahan bangunan juga menjadi salah satu fakor yang menyebabkan kerusakan ekosistem yang terjadi di laut. 

4. Penambangan pasir pantai yang dilakukan manusia untuk di jadikan sebagai bahan bangunan. Hal ini tentu memicu kerusakan ekosistem laut. Dengan penambangan pasir pantai yang terus menerus, tentunya sangat merugikan manusia juga pada akhirnya.

5. Pembuangan berbagai macam limbah yang dibuang ke laut. Berbagai macam limbah domestik dan pembuangan sisa pengolahan ikan yang langsung di buang ke laut tentunya akan mencemari dan menurunkan kualitas laut. Pencemaran ini tentunya akan merusak ekosistem laut. Tidak hanya itu, dengan rusaknya terumbu karang, tentunya juga akan merusak biota laut. Seperti yang sudah kita ketahui, terumbu karang merupakan tempat dimana hidupnya ribuan jenis ikan yang menggantungkan hidupnya dengan memakan fitoplankton yang juga hidup di daerah terumbu karang tersebut.

Alternatif Solusi untuk mengatasi Kerusakan Ekosistem Laut

 

Kerusakan ekosistem Laut ini sudah terjadi hampir di seluruh wilayah pesisir, karena kesadaran masyarakat tentang lingkungan masih rendah. Masyarakat harus menyadari dan wajib melindungi keberadaan ekosistem laut sebagai penopang hidup mereka.Karena cara mengatasi kerusakan di lingkungan laut, sebenarnya ada dalam diri manusia itu sendiri tergantung dari kemauan mereka mau atau tidaknya seseorang melakukan hal tersebut.Dari pelbagai permasalahan yang muncul, ada upaya perbaikan yang bisa dilakukan. Upaya ini harus melibatkan masyarakat untuk membangun kehidupan seimbang, dinamis dan berkelanjutan. Antara lain:

a. Meningkatkan pendayagunaan potensi laut dan dasar laut.

Peningkatan pendayagunaan potensi yang ada di lingkungan laut,baik luar maupun dalam laut. Misalnya dalam pendayagunaan lingkungan laut sebagai pariwisata,budidaya rumput laut, maupun budidaya ikan. Dimana dalam peningkatan ini peran pemerintah juga harus diikutsertakan dalam proses pendayagunan laut ini, seperti yang sudah diatur dalam Undang-Undang Repubik Indonsia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan yaitu dalam BAB IV Pasal 8 Ayat 1 dan Pasal 9 Ayat 1 dan Ayat 2.

b. Meningkatkan harkat dan taraf hidup nelayan.

Penangkapan ikan sebagai cara mencari nafkah para nelayan ataupun untuk indutri perikanan dapat diperbolehkan. Asal cadangan ikan yang mereka tangkap tidak dalam keadaan punah, sedangkan untuk ikan yang belum mencapai besar tertentu, harus dilepaskan kembali ke dalam laut, yang telah diatur dalam Undang-Undang Repubik Indonsia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan yaitu dalam BAB III Pasal 5 dan Pasal 6. Penataan dan perlindungan daerah tangkapan ikan nelayan lokal, penataan dan pengendalian penambangan pasir pantai.

c. Mengembangkan potensi industri kelautan.

Pengendalian pencemaran oleh industri, hendaknya bersifat bahwa jumlah bahan yang mengakibatkan polusi tidak harus berbahaya dan tidak mengganggu keberadaan biota laut. Oleh karena itu, buangan limbah sebelum dialirkanke sungai ataupun perairan perlu teknik pengolahan imbah sesuai dengan yang ditentukan. Hasil sampah yang berasal dari kegiatan manusia harus di kurangi dan didorong untuk mendaur ulang kotoran maupun limbah lain. Bahkan, kalau perlu melarang pembuangan semua limbah ke lingkungan laut.

d. Mempertahankan daya dukung dan kelestarian fungsi lingkungan laut.

Penanggulangan kerusakan tersebut,sdiharapkan warga yang ada di daerah pesisir laut untuk dapat mempertahankan aset-aset yang terdapat dalam lingkungan laut tersebut, menyadari akan kepentingan laut dan ekosistemnya yaitu sebagai sumber hayati, meletarikan kemampuan alam untuk menjadikan sumber mata pencaharian penduduk sekitar laut sehingga menadikan suatu kesejahteraan masyarakatnya.

Namun solusi diatas dapat terjadi jika semua pihak yang terlibat baik itu dari pihak pemerintah  dan warga masyarakat dapat bekerjasama. Diharapkan dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, maka negeri maritim yang sejahtera akan segera terwujud dan hal seperti itu juga diharapkan dapat menanggulangi kerusakan – kerusakan ekosistem laut di seluruh Indonesia saat ini dan seterusnya.

sumber : http://www.bppp-tegal.com/web/index.php/artikel/konservasi/518-permasalahan-kerusakan-ekosistem-laut

 

2. PERMASALAHAN DALAM LINGKUNGAN EKOSISTEM PESISIR

Indonesia terletak sangat strategis ,yaitu di daerah tropis, diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik). Letak yang strategis ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam khususnya pesisir. Wisata bahari, budi daya tambak, pertambangan dan pemukiman adalah beberapa contoh potensi ekonomi yang bernilai tinggi. Tak heran apabila daerah pesisir menjadi daya tarik bagi seluruh pihak untuk mengelola dan memanfaatkannya dari segi ekonomi maupun politikya.

Daerah pesisir adalah jalur tanah darat/kering yang berdampingan dengan laut, dimana lingkungan dan tata guna lahan mempengaruhi secara langsung lingkungan ruang bagian laut, dan sebaliknya. Daerah pesisir adalah jalur yang membatasi daratan dengan laut atau danau dengan lebar bervariasi.

Daerah ini selalu berkembang dengan pesatnya pembangunan yang dilakukan berbagai pihak. Pihak-pihak tersebut secara tidak langsung mengakibatkan kerusakan lingkungan karena aktivitas yang dilakukan di darat maupun di laut. Hal ini menjadikan ekosistem pesisir sebagai ekosistem yang rentan terhadap kerusakan dan perusakan baik alami maupun buatan.

Permasalahan Daerah Aliran Sungai

Daerah Aliran Sungai di Indonesia semakin mengalami kerusakan lingkungan dari tahun ke tahun. Kerusakan lingkungan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) meliputi kerusakan pada aspek biofisik ataupun kualitas air.

Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Dari 5,5 ribu sungai utama panjang totalnya mencapai 94.573 km dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 1.512.466 km2. Selain mempunyai fungsi hidrologis, sungai juga mempunyai peran dalam menjaga keanekaragaman hayati, nilai ekonomi, budaya, transportasi, pariwisata dan lainnya.

Saat ini sebagian Daerah Aliran Sungai di Indonesia mengalami kerusakan sebagai akibat dari perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS. Gejala kerusakan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari penyusutan luas hutan yang ada di daerah hulu sungai dan hutan gundul di daerah pegunungan serta kerusakan lahan terutama kawasan lindung di sekitar Daerah Aliran Sungai.

Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi mengakibatkan kondisi kuantitas (debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim penghujan dan kemarau. Selain itu juga penurunan cadangan air serta tingginya laju sendimentasi dan erosi. Dampak yang dirasakan kemudian adalah terjadinya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) pun mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai yang mengalami pencemaran yang diakibatkan oleh erosi dari lahan kritis, limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian (perkebunan) dan limbah pertambangan. Pencemaran air sungai di Indonesia juga telah menjadi masalah tersendiri yang sangat serius.

Permasalahan Lingkungan Pesisir

Sumber daya pesisir memiliki produktifitas yang tinggi dalam pembangunan karena dapat meningkatkan devisa, lapangan kerja, pendapatan dan kesejahteraan penduduk. Banyaknya kegiatan yang dilakukan di daerah pesisir mengakibatkan daerah ini sangat rentan terhadap kerusakan dan pengerusakan.

Wilayah pesisir memiliki tingkat kepadatan penduduk dan intensitas pembangunan industri yang tinggi, sehingga lingkungan pesisir sering mendapat tekanan manusia yang tinggi. Kerusakan sumber daya alam saat ini tidak terlepas dari perilaku manusia dalam memperlakukan alam. Perilaku manusia saat ini dipengaruhi oleh etika antroposentrisme dimana cara pandang manusia hanya melihat dari sudut prinsip etika terhadap manusia saja, baik dari sisi kebutuhannya maupun kepentingannya yang lebih tinggi dan terkadang sangat khusus dibandingkan dengan makhluk lain. Makhluk selain manusia dan benda lainnya hanya dianggap sebagai alat peningkat kesejahteraan manusia atau yang dikenal dengan prinsip instrumentalistik.

Dilihat dari penyebabnya, kerusakan ekosistem pesisir dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

  1. Kerusakan karena faktor alam.

Contoh-contoh penyebab kerusakan ekosistem pesisir karena faktor alam adalah gempa, tsunami, badai, banjir, el-Nino, pemanasan global, predator.

  1. Kerusakan akibat aktivitas manusia atau antropogenik.

Contoh-contoh penyebab kerusakan akibat aktivitas manusia adalah penggunaan alat-alat penangkapan ikan yang membahayakan (dinamit/bahan peledak, racun/tubalpotas), penambangan karang dan pasir, reklamasi, limbah pertanian, sedimentasi sebagai akibat di daerah hulu karena penebangan dan penggundulan hutan, limbah sisa buangan baik dari aktivitas rumah tangga maupun industri yang ada di daerah daratan, pembuangan jangkar perahu nelayan, konversi mangrove untuk peruntukan lain seperti pembukaan tambak garam, ikan, maupun udang, penebangan mangrove untuk kayu bakar, bahan bangunan dan bahan baku kertas.

Kerusakan terumbu karang umumnya disebabkan oleh kegiatan-kegiatan perikanan yang bersifat destruktif, yaitu penggunaan bahan-bahan peledak, bahan beracun sianida, dan juga aktivitas penambangan karang untuk bahan bangunan. pembuangan jangkar perahu, dan sedimentasi tanah akibat meningkatnya erosi dari lahan atas. Kegiatan perikanan destruktif ini tidak hanya dilakukan oleh nelayan tradisional, tetapi juga oleh nelayan-nelayan modern dan juga nelayan asing yang melakukan kegiatan pencurian ikan di perairan nusantara.

Hal yang sama juga terjadi pada ekosistem hutan mangrove. Penyebab penurunan luasan mangrove tersebut adalah karena adanya peningkatan kegiatan yang mengkonversi hutan mangrove menjadi peruntukan lain seperti pembukaan tambak, pengembangan kawasan industri dan permukiman di kawasan pesisir serta penebangan hutan mangrove untuk kebutuhan kayu bakar, arang dan bahan bangunan.

Faktor yang dapat merusak terumbu karang diantaranya adalah :

  • Pengendapan kapur

Pengendapan kapur dapat berasal dari penebangan pohon yang dapat  mengakibatkan pengikisan tanah (erosi)  yang akan terbawa kelaut dan  menutupi karang sehingga karang tidak dapat tumbuh karena sinar matahari  tertutup oleh sedimen.

  • Aliran air tawar

Aliran air tawar yang terus menerus dapat membunuh karang, air tawar  tersebut dapat berasal dari pipa pembuangan, pipa air hujan ataupun limbah  pabrik yang tidak seharusnya mengalir ke wilayah terumbu karang.

  • Berbagai jenis limbah dan sampah

Bahan pencemar bisa berasal dari berbagai sumber, diantaranya adalah limbah    pertanian, perkotaan, pabrik, pertambangan dan perminyakan.

  • Pemanasan suhu bumi                                                                                                         Pemanasan suhu bumi dikarenakan pelepasan karbon dioksida (CO2) ke udara.  Tingginya kadar CO2 diudara berpotensi meningkatan suhu secara global. yang  dapat mengakibatkan naik nya suhu air laut sehingga karang menjadi memutih  (bleaching) seiring dengan  perginya zooxanthelae dari jaringan kulit karang, jika  terjadi terus menerus maka pertumbuhan terumbu karang terhambat dan akan  mati.
  • Uji coba senjata militer

Pengujian bahan peledak dan nuklir di laut serta kebocoran dan buangan reaktor  nuklir menyebabkan radiasi di laut, bahan radio aktif tersebut dapat bertahan  hingga ribuan tahun yang berpotensi meningkatkan jumlah kerusakan dan  perubahan genetis (mutasi) biota laut.

  • Cara tangkap yang merusak

Cara tangkap yang merusak antara lain penggunaan muro-ami, racun dan bahan  peledak.

  • Penambangan dan pengambilan karang

Pengambilan dan penambangan karang umumnya digunakan sebagai bahan  bangunan. Penambangan karang berpotensi menghancurkan ribuan meter  persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air.

  • Penambatan jangkar dan berjalan pada terumbu

Nelayan dan wisatawan seringkali menambatkan jankar perahu pada terumbu  karang. Jangkar yang dijatuhkan dan ditarik diantara karang maupun hempasan  rantainya yang sangat merusak koloni karang.

  • Serangan bintang laut berduri

Bintang laut berduri adalah sejenis bintang laut besar pemangsa karang yang  permukaanya dipenuhi duri. Ia memakan karang dengan cara manjulurkan  bagian perutnya ke arah koloni karang, untuk kemudian mencerna dan  membungkus  polip-polip karang dipermukaan koloni tersebut.

sumber :http://adzriair.blogspot.co.id/2012/12/permasalahan-dalam-lingkungan-ekosistem.html

Advertisements